Wisata HIstoris Rumah pengasingan Bung karno Di Ende

In Nusa Tenggara Timur
source:travelmatekamu.com
source:henridaros.wordpress.com
source:rosodaras.wordpress.com
source:ikasoewadji.wordpress.com
Written by Aditya Tri Hutama Posted 1st October 2014, 12:33pm
Rate this article 

Nusa Tenggara Timur bukan hanya milik Taman Nasional Komodo dan wisata Pulau Gilinya saja, di pulau ini juga terdapat tempat wisata historis yang memiliki magis tersendiri bagi Bangsa Indonesia. Letaknya di Ende NTT terdapat sebuah rumah yang menjadi rumah pengasingan Sang Proklamator yang akrab dikenal dengan Bung Karno. Rumah pengasingan ini tepat berada di daerah NTT tepatnya di Jalan Perwira Flores. Rumah pengasingan ini ditempati oleh Bung Karno selama 4 tahun lamanya, yakni di tahun 1934-1938. Selama di rumah pengasingan ini banyak sekali terlahir ide-ide bangsa spektakuler yang dikenang hingga saat ini.

Dulunya rumah pengasingan ini adalah milik seorang warga Ende bernama Haji Abdullah Ambuwaru, yang kemudian Bung Karno berinisiatif untuk mengkontraknya. Rumah pengasingan ini sangatlah sederhana dan tidak ada kesan mewah sama sekali, beratap besi seng dan hanya memuat beberapa kamar saja. Terhitung ada 3 kamar yaitu kamar Bung karno, kamar Ibu Anggit dan Ibu Amsih dan untuk kamar tamu. Di salah satu sudut di belakang rumah ada satu tempat yang khusus digunakan oleh Bung Karno untuk bermunajat kepada Sang Pencipta. Tepat ruangan inilah Bung Karno seringkali terlihat bermeditasi dan beribadah. Dan ketika Anda berkunjung ke ruangan ini Anda akan mendapati telapa tangan Bung Karno yang sedang bersujud ketika beribadah.

Di dalam rumah ini Anda juga dapat melihat hasil karya Bung Karno berbentuk Tonil dan beberapa barang peninggalan beliau. Termasuk satu-satunya tongkat berkepala monyet yang biasa dibawa kemana-mana oleh Sang Proklamator. Ada satu cerita yang amat terkenal ketika Bung Karno disuruh membalas hormat kepada penguasa Hindia Belanda tetapi Bung Karno tidak membalas hormat tersebut, melainkan mengacungkan tongkat berkepala monyet tersebut kepada sang penguasa. Ini bermakna bahwa penguasa dan semua sekutunya tidaklah pantas untuk dihormati manusia tetapi lebih tepat dihormati oleh hewan (kepala monyet di tongkat).

Satu hal lagi yang menjadikan rumah pengasingan ini sangat kental dengan sisi historis Bangsa Indonesia adalah terdapat sebuah pohon sukun (Artocarpus Communis) yang konon ceritanya Bung Karno mendapat inspirasi membubuhkan 5 butir mutiara isi Pancasila dari inspirasi beliau melihat daun sukun dari pohon ini yang bergerigi sejumlah 5 buah. Pohon ini dikeramatkan oleh masyarakat sekitar dan dikenal dengan Pohon Pancasila.

Do you have a picture of this article? Share it from your Instagram!