Wae Rebo - Kampung Berpredikat Pelestarian Budaya Terbaik

In Nusa Tenggara Timur
source:indonesia.travel
source:themuslimtimes.org
source:rchstudy.mihanblog.com
Written by Riyan Adiyahasya Posted 24th August 2013, 12:00am
Rate this article 

Flores, pulau dengan harta alami di setiap sudut tempatnya, Khasanah budaya dan tentunya keindahan alam yang luar biasa. Dunia melalui UNESCO memberikan apresiasi luar biasa, khususnya bagi Wae Rebo untuk kampung dengan pelestarian budaya terbaik yang mengalahkan tempat-tempat di 11 negara kompetitor lainnya. Kampung di balik awan ini berada di Kabupaten Manggarai, tepatnya di Kecamatan Satarmese Barat, Desa Satar Lenda.

Untuk sampai ke Wae Rebo Anda harus berjalan kaki sekitar 3 jam perjalanan dari desa Denge, desa terdekat menuju Wae Rebo. Nuansa alam yang indah akan menemani Anda selama perjalanan. Tujuh buah rumah dengan arsitektur bangunan yang masih tradisional, tersembunyi di antara bukit-bukit dan berdiri di ketinggian sekitar 1100 m dpl akan menyambut Anda sesampainya di sana.

Rumah-rumah mereka berbentuk kerucut dan biasa disebut rumah gendang atau Mbaru Niang dalam bahasa setempat. Kampung ini memiliki 7 rumah dengan compang di poros kampung yang digunakan sebagai tempat pemujaan leluhur. Meski telah mengenal agama, masyarakat di kampung Wae Rebo masih menjaga hubungan spiritual kepada leluhur, salah satunya melalui persembahan dan ritual-ritual.

Wae Rebo hingga saat ini telah menjadi tujuan wisata para wisatawan dari berbagai negara. Warga kampung Wae Rebo senantiasa menyambut dan memperkenalkan khasanah budaya mereka, salah satunya dengan tarian penyambutan pendatang, yaitu tari dende. Dalam tarian penyambutan tersebut puluhan lelaki yang dipimpin oleh tetua adat akan mengambil posisi melingkar, sambil menari dan menyanyi.

Rumah kerucut atau Mbaru Niang sendiri diambil dalam artian sebagai tempat penyimpanan barang-barang pusaka milik leluhur, terbukti dari gendang-gendang, gong, dan benda pusaka lainnya yang tergantung di dalam Mbaru Niang. Mbaru Niang berbentuk lingkaran dengan diameter sekitar 14 meter dan dihuni oleh 8 kepala keluarga dalam satu rumahnya, dan saat ini telah memasuki generasi yang ke-19.

Walaupun rumah ini tidak terlalu besar, namun bangunannya terdiri dari 5 tingkat. Di tingkat pertama, lutur, atau tenda adalah tempat tinggal penghuninya. Di tingkat kedua, lobo, atau loteng ialah tempat menyimpan bahan makanan dan barang. Tingkat ketiga ialah lentar yang berfungsi menyimpan benih jagung dan tanaman untuk bercocok tanam lainnya. Tingkat keempat ialah lempa rae, yaitu tempat untuk menyimpan cadangan makanan yang akan sangat berguna saat panen dirasa kurang berhasil. Sedangkan tingkat kelima, hekang kode, yaitu tempat menyimpan sesajian untuk para leluhur.

Do you have a picture of this article? Share it from your Instagram!