Museum Seni Rupa dan Keramik - Rumah Seniman-seniman Hebat Indonesia

In DKI Jakarta
Written by Riyan Adiyahasya Posted 7th August 2013, 12:00am
Rate this article 

Museum Seni Rupa dan Keramik menyimpan sejarah seni lukis dan patung Indonesia, dan berbagai jenis keramik yang berasal dari dalam maupun luar negeri. Melalui museum ini, Anda akan dibawa untuk mengenal lebih jauh tentang para seniman Indonesia dan karya-karyanya yang telah mendunia, dan melihat kekayaan keramik yang telah berusia ratusan tahun.

Anda dapat melihat berbagai koleksi seni rupa yang berasal dari seniman hebat Indonesia. Di antaranya terdapat nama I Wayan Tjokot yang terkenal dengan patung totem kayunya, seminan patung kayu modern; G. Sidharta dan Oesman Effendi, dan seniman-seniman lulusan akademis seperti, Popo Iskandar, Fajar Sidik, Mulyadi W, dan Abas Alibasyah. Selain itu, museum ini juga menyimpan koleksi unggulan yang memiliki nilai sejarah tinggi bagi seni rupa Indonesia. Terdapat lukisan ?gPengantin Revolusi?h karya Hendra Gunawan, ?gIbu Menyusui?h karya Dullah, ?gBupati Cianjur?h karya Raden Saleh, ?gSeiko?h karya S.Sudjojono, dan ?gPotret Diri?h karya Affandi.

Untuk koleksi keramiknya, museum ini membaginya ke dalam dua jenis; keramik lokal dan keramik asing. Untuk koleksi keramik lokal diisi dengan keramik-keramik yang berasal dari sentra industri, seperti Aceh, Medan, Palembang, Lampung, Jakarta, Yogyakarta, dan Bali. Selain itu, di museum ini terdapat pula keramik yang berasal dari era Majapahit pada abad ke-14 yang bernilai sejarah tinggi. Untuk jenis keramik asing, koleksi terdiri dari berbagai bentuk, ciri, karakteristik, fungsi, dan gaya yang berasal dari China, Jepang, Thailand, dan Eropa. Keramik yang berasal dari China didominasi oleh keramik yang dibuat pada Dinasti Ming dan Ching.

Sejarah gedung Museum Seni Rupa dan Keramik

Anda mungkin tidak mengetahui jika gedung dari Museum Seni Rupa dan Keramik ini memiliki perjalanan sejarah yang sangat panjang. Gedung yang memiliki nama awal Raad van Justitie ini diarsiteki oleh Jhr. Willem Herman Frederik Hendrik van Raders. Gedung dibangun pada tahun 1970 oleh perusahaan konstruksi Drossacras & CO dengan biaya 269 ribu golden. Pada tahun 1944, gedung berubah fungsi menjadi asrama militer Jepang, KNIL dan militer Indonesia. Selama tahun 1970-1973, gedung dialihfungsikan menjadi kantor Walikota Jakarta Barat. Sebelum berganti nama menjadi Museum Seni Rupa dan Keramik pada tahun 1990, Gubenur Ali Sadikin menjadikannya sebagai Balai Seni Rupa dan Museum Keramik pada tahun 1977.

Do you have a picture of this article? Share it from your Instagram!