Menemukan Kembali Kereta Kuda Para Sultan di Museum Kereta Keraton

In Yogyakarta
source:panoramio.com
source:kyscrapercity.com
source:panoramio.com
source:panoramio.com
Written by Riyan Adiyahasya Posted 7th November 2013, 3:01am
Rate this article 

Di masa lalu, kereta kuda merupakan kendaraan utama di Kesultanan Yogyakarta. Berbagai jenis kereta kuda yang umumnya dipesan dari Belanda telah dipergunakan oleh para Sultan dan keturunannya. Hingga saat ini, kereta-kereta kuno nan antik tersebut tetap dipelihara dan dirawat karena merupakan warisan sejarah yang berharga.

Lalu berada dimana kereta-kereta kuda tersebut sekarang? Di sisi barat daya alun-alun utara Yogyakarta, atau tepatnya di Jl. Rotowijayan, Kelurahan Kadipaten, Kecamatan Keraton, Anda bisa menemukan museum Kereta Keraton Yogyakarta. Museum tersebut merupakan tempat dimana Anda bisa melihat berbagai koleksi kereta kuda yang berumur puluhan dan bahkan ada kereta yang dibuat pada tahun 1700-an.

Museum Kereta Keraton Yogyakarta didirikan sejak masa pemerintahan Sri Sultan Hamengkubuwono VII. Ada sekitar dua puluh tiga kereta kuda kuno yang tersimpan dan terawat dengan baik. Koleksi paling antik dan telah berusia ratusan tahun di antaranya seperti kereta Kyai Manik Retno, yang dibeli pada masa Sultan Hamengkubuwono ke IV pada sekitar tahun 1815. Kereta kuda ini ditarik oleh empat ekor kuda dan dijadikan kendaraan pesiar Sri Sultan dengan permaisurinya. Selain itu, ada juga kereta Kyai Jongwiyat, kereta Kyai Puspoko Manik, serta kereta Mondro Juwolo, yakni kereta kuda yang pernah dipakai oleh Pangeran Diponegoro.

Di dalam museum, Anda akan disuguhkan berbagai kereta kuda dengan jenis yang berbeda-beda. Ada tiga jenis kereta yang disimpan di museum: kereta atap terbuka dan beroda dua, kereta atap terbuka dan beroda empat, serta kereta atap tertutup dan beroda empat. Selain itu, kuda yang dipergunakan kereta-kereta Keraton juga merupakan kuda-kuda pilihan. Kuda yang boleh digunakan adalah kuda-kuda dengan warna Jragem (hitam kemerahan), Dhawuk (semi putih-keabuan), Merah, atau Hitam.

Selain bisa menikmati keantikan kendaraan zaman dulu ini, di museum juga terdapat sebuah prosesi adat khas Keraton. Setiap tanggal 1 Suro atau 1 Muharram menurut penanggalan Jawa, kereta-kereta yang termasuk kereta pusaka akan dimandikan atau istilahnya Jamasan. Setiap Jamasan tersebut masyarakat akan berkumpul untuk menyaksikan upacara, mereka berharap dari bekas Jamasan tersebut bisa mendatangkan berkah dan keselamatan.

Do you have a picture of this article? Share it from your Instagram!