Kembali Ke Zaman Purba Dengan Datang Ke Pulau Sumba

In Nusa Tenggara Timur
source:tripadvisor.co.id
source:santacruzcrowd.blogspot.com
Written by Aditya Tri Hutama Posted 27th October 2014, 1:23pm
Rate this article 

Pernahkah Anda mendengar tradisi warga Nusa Tenggara Timur dengan Tradisi Pasola, jika Anda traveler dan wisatawan pastinya tidak asing dengan Tradisi Pasola ini. Tradisi unik dari masyarakat Sumbawa yang melakukan perang lembing dengan mengendarai kuda. Tradisi ini menjadi salah satu tradisi yang menjadi kalender resmi pemerintah setempat untuk menggaet wisatawan domestik dan asing untuk berkunjung ke Nusa Tenggara Timur. Dan pada kesempatan kali ini, Penulis akan membawa pembaca sekalian untuk masuk lebih dekat di pulau yang menjadi tempat penyelenggaraan Tradisi Pasola tersebut. Nama dari pulau ini sendiri adalah Pulau Sumba, terkenal dengan Pasola dan rumah adat purbanya.

Di dalam pulau seluas tidak kurang dari 10.710 Km persegi ini Anda akan dibuat berdecak kagum melihat seisi Pulau Sumba ini. Di seluruh daratan pulau ini masih tetap mempertahankan adat istiadat masyarakat lampau yang tidak terkena pergeseran jaman sama sekali. Masyarakat sekitar masih mempertahankan rumah-rumah jaman purba yang masih asli dan tidak terjamah modernisasi. Ada beberapa kampung yang biasa menerima kunjungan wisata para turis yang berkunjung disini diantaranya adalah Kampung Waitabar, Kampung Tarung, Elu, Bodo Ede dan Kampung Paletelolu. Di desa adat ini Anda bisa melakukan interaksi dan melihat-lihat isi dalam rumah para masyarakat Pulau Sumba ini.

Rumah tradisional ini memiliki 3 tingkat beruntut yakni tingkat pertama,kedua dan ketiga. Ada fungsi dan penempatan tersendiri dari ketiga tingkat tersebut, tingkat pertama (dasar) adalah tempat untuk  menaruh ternak-ternak peliharaan. Masyarakat sekitar biasa memelihara kuda, babi dan ayam. Untuk lantai dua dijadikan sebagai tempat beristirahat dan tempat untuk menghangatkan badan dengan perapian tradisional. Sedangkan tingkat ketiga atau yang paling atas dijadikan lumbung persediaan pangan dan tempat penyimpanan/gudang.

Selain rumah adat yang tidak terjamah arus modernisasi tersebut, masih ada dua hal yang menjadi keragaman budaya di Pulau ini. Yang satu adalah bukti penginggalan zaman dulu dengan tradisi kubur batu dan bukti otentik dari makam-makam kubur batu tersebut. Dan yang kedua adalah masih ditemui banyak masyarakat Pulau Sumba yang masih melestarikan agama lokal yaitu Agama Marapu. Dan jangan heran ketika Anda masuk di Desa Adat Pulau Sumba ini, Anda akan dibawa masuk ke dalam sebuah era lama yang sebelumnya tidak pernah Anda temui di lingkungan sekitar. Bahkan untuk kegiatan sehari-hari masyarakat disini alat transportasi yang dipergunakan masih menggunakan kuda tunggangan seperti jaman kerajaan tempo dulu.
 

Do you have a picture of this article? Share it from your Instagram!