Benteng Keraton Buton - Benteng Terluas di Dunia

In Sulawesi Tenggara
source:http://orangbuton.wordpress.com
source:http://hartiitusulita.blogspot.com
source:http://infolite-infolite.blogspot.com
source:http://dreamindonesia.wordpress.com
Written by Riyan Adiyahasya Posted 24th May 2013, 12:51am
Rate this article 

Di Indonesia terdapat banyak sekali benteng-benteng yang masih kokoh berdiri dengan meninggalkan bukti-bukti sejarah di dalamnya. Banyak cerita atau kisah yang bisa Anda dapatkan dalam setiap kunjungan Anda ke sebuah benteng, yang tentunya hal tersebut berguna untuk menambah wawasan. Wisata sejarah kali ini akan membawa Anda menuju salah satu benteng di Kota Bau-bau, Sulawesi Tenggara. Dari sekian banyak benteng yang ada di dunia, Benteng Keraton Wolio/ Buton ini adalah benteng yang terluas.

Benteng Keraton Wolio adalah benteng bekas peninggalan Kesultanan Buton Kaimuddin pada abad ke-16. Dengan luasnya yang mencapai 23.375 hektar dan panjang keliling 3 kilometer, benteng tersebut dinobatkan oleh Guiness of Record pada tahun 2006 dan rekor MURI sebagai benteng terluas di dunia. Tak pelak benteng tersebut menjadi salah satu primadona wisata bersejarah di Sulawesi Tenggara.

Benteng Keraton Wolio atau Buton ini dibangun oleh Sultan Buton III bernama La Sangaji yang bergelar Sultan Kaimuddin (1591-1596). Awalnya benteng tersebut hanya dibangun dalam bentuk tumpukan batu yang disusun mengelilingi komplek istana dengan tujuan sebagai pembatas antara komplek istana dengan perkampungan sekaligus menjadi benteng pertahanan. Lalu pada masa pemerintahan Sultan Buton IV yang bernama La Elangi atau Sultan Dayanu Ikhsanuddin, barulah benteng berupa tumpukan batu tersebut dijadikan sebuah bangunan yang permanen.

Menurut cerita masyarakat, pembuatan benteng yang bernama asli Gafurul Wadudu ini dibangun menggunakan bahan baku utama dari batu-batu gunung yang direkatkan dengan kapur dan rumput laut serta putih telur sebagai bahan perekat. Selain itu benteng ini mengelilingi perkampungan adat asli Buton dengan rumah-rumah tua yang masih terpelihara hingga saat ini. Masyarakat setempat juga masih menerapkan budaya asli yang dikemas dalam ragam tampilan seni budaya yang kerap ditampilkan pada upacara-upacara adat.

Karena letaknya berada pada puncak bukit yang cukup tinggi, dari benteng ini Anda bisa menatap indahnya pemandangan Kota Bau-bau secara keseluruhan. Anda juga dapat melihat berbagai macam peninggalan sejarah Kesultanan Buton. Banyak objek menarik yang bisa Anda kunjungi dalam benteng ini, seperti batu Wolio, batu popaua, masjid agung, makam Sultan Murhum (Sultan Buton pertama), Istana Badia, dan meriam-meriam kuno. Batu Wolio adalah sebuah batu berwarna gelap yang konon di dekat batu itulah pada dahulunya masyarakat setempat menemukan seorang putri jelita bernama Wakaa-Kaa yang dikatakan berasal dari Tiongkok.

Benteng ini juga terdiri dari tiga komponen yaitu badili, lawa, dan baluara. Badili adalah meriam bekas persenjataan Kesultanan Buton yang dapat ditemui hampir pada seluruh kawasan benteng. Sedangkan lawa adalah 12 pintu gerbang yang berfungsi sebagai penghubung Keraton dengan perkampungan. Dan Baluara yang dalam bahasa Portugis yaitu ?gBaluer?h, berarti bastion. Dari 16 baluara yang ada, dua di antaranya memiliki godo (gudang) yang terletak di atasnya. Masing-masing berfungsi sebagai tempat penyimpanan peluru dan mesiu.

Selain berwisata sejarah, alam Kota Baubau juga menyimpan keindahan alam tropis berupa pantai, gua, air terjun, dan lainnya. Ada sejumlah pantai berpasir putih bersih di Baubau, salah satu yang terbaik adalah Pantai Nirwana. Pantai ini berada sekitar 10 km dari pusat kota, tepatnya terletak di Kelurahan Sulaa, Kecamatan Betoambari, atau dapat ditempuh dalam waktu 30 menit berkendara.

Do you have a picture of this article? Share it from your Instagram!