Karya Seni Bernama Tulisan yang Menembus Pasar Internasional

Written by Rendyadi Amnar Posted 7th April 2015, 8:03am
Rate this article 

Hasil karya seni dalam negeri yang dibuat dengan tangan kreatif warisan leluhur mungkin sukar untuk dinilai dengan angka semata. Kemudahan masyarakat lokal dalam menemukan kerajinan tangan etnik yang proses pembuatannya sangat kompleks dan detil justru menjadikan masterpiece seperti ini sulit untuk diapresiasi. Namun jika Anda melihat lebih dalam, selain proses pembuatannya yang sangat rumit, filosofi yang mendasari pembuatan sebuah karya seni juga sepatutnya mendapatkan apresiasi lebih.

Tulisan, sebuah merk lokal yang mampu merepresentasikan budaya nenek moyang, merupakan salah satu wujud karya seni yang patut dibanggakan. Pemilik butik Tulisan sekaligus peraih Ernst & Young Entrepreneurial Winning Women 2013, Melissa Sunjaya, tak hanya sekedar menggambar dan merancang produk-produknya saja. Ia bahkan mempelajari metode batik tulis dan sablon untuk menciptakan produk berkualitas yang 100% dibuat di dalam negeri serta memberikan nyawa pada kisah yang terdapat pada setiap produknya. Setiap karya Tulisan diproduksi dengan teknik manual, sehingga Anda tak akan menjumpai koleksi yang sama satu dengan lainnya.

"Saya melihat masyarakat Indonesia sudah cukup jeli dan mampu mengapresiasi karya seni. Setiap produk yang saya ciptakan memiliki cerita, dan mayoritas para pelanggan Tulisan tak sekedar membeli produk Tulisan hanya karena suka dengan tampilan luar produknya, namun mereka juga mengerti cerita yang ditumpahkan dalam bentuk gambar pada setiap produknya", terang Melissa.

Jika sebelumnya Anda dapat menjumpai produk Tulisan di Darmawangsa Square dan The Goods Dept, kini Tulisan juga hadir di Plaza Senayan. Bertempat di ujung lantai 2, butik yang dekorasinya serba kayu ini akan menyambut Anda dengan warna-warni produknya, mulai dari tas hingga aksesoris.

Produk tulisan tak hanya terdapat di Indonesia saja, produk ini bahkan sudah menembus pasar Amerika, Swiss, Jerman, Korea, Hong Kong, Taiwan, dan Singapura. Lantas, apakah Anda tetap memilih untuk membeli tas desainer asing yang mayoritas merupakan sebuah produk komersil semata tanpa adanya nyawa dan filosofi di dalamnya?

Do you have a picture of this article? Share it from your Instagram!