S. Bagio

Written by Nena Nikita Posted 5th June 2014, 6:24am
Rate this article 

Menjadi seorang pelawak dan pemeran merubah kehidupan Bagio bersama keluarganya. Dia mengawali karir sebagai seorang pemeran dan pelawak dimulai dari nol dengan segala keterbatasannya dia berjuang tak kenal lelah. Karena keadaan ekonominya yang sangat sempit, sebelum menjadi seorang yang terkenal Bagio dan keluarganya tinggal di sebuah rumah petak di gang yang becek dan kumuh di Jakarta. Apabila hujan mengguyur maka rumahnya tak kan luput dari banjir. Masa masa sulit itu dijadikan Bagio sebagai motivasi untuk bekerja tanpa kenal lelah. Dia berjualan arang, juga kelapa, sedang sang istri Apik Hariyati membantunya dengan berjualan lontong. Dia selalu mengingat masa- masa sulit yang pernah mereka hadapi itu, sehingga dengan perubahannya dia semakin rendah hati dan memanfaatkan kesempatan yang ada di depannya dengan maksimal.

Bagio lahir di Jawa Tengah, tepatnya di desa Purwokerto pada 3 Maret 1933. Dia menjadi terkenal dengan bergabung sebuah grup lawak Bagio CS bersama Darto Helm, Diran dan Sol Saleh. Lewat grup inilah namanya menjadi dikenal oleh publik dan kemampuannya layak untuk dipertimbangkan. Tetapi walaupun dia telah menjadi orang yang terkenal dan sukses menjadi seorang intertain tapi dia selalu rendah hati dan karakternya yang ramah masih terus melekat ditengah- tengah keberhasilannya.

Bagio adalah satu- satunya anak lelaki dari keluarga Siswo Suwarno, dan ayahnya adalah seorang Asisten Wedana Sumbang. Oleh sebab itu sejak kecil Bagio jarang bertemu dengan ayahnya karena kesibukan sang ayah menjadi seorang asisten yang mengharuskannya banyak meninggalkan rumah dan keluarganya. Sejak usia 12 tahun Bagio telah menjadi piatu, ibunya meninggal dan sejak saat itu dia merasa kesepian. Bagio menghibur dirinya dengan keluar tanpa tujuan, untuk mengusir rasa sepinya dia sering keluyuran tanpa tujuan. Bakat seorang Bagio untuk menjadi pemeran dan pelawak memang telah nampak dari sejak dia kecil. Pada saat dia menginjak kelas VI SD dia diajak oleh temannya Drajat untuk bersandiwara, dia berperan sebagai sebuah barang yang dibawa Drajat di dalam karung saat dia bepergian naik kereta api. Di Yogyakarta dia juga pernah memenangkan sebuah kejuaraan melawak bersama Eddy Sud dan Iskak. Setelah itu dia melanjutkan studinya ke UGM tetapi akhirnya dia memilih untuk tidak menyelesaikan pendidikan demi karirnya di dunia lawak.

Pilihannya untuk focus di satu bidang akhirnya mendulang kesuksesan, dia menjadi dikenal dan karirnya semakin menanjak sejak saat itu. Bagio juga pernah membentuk sebuah grup ketoprak Suryo Budoyo yang menggunakan bahasa Indonesia dengan alasan agar semua orang Indonesia dapat menikmati karyanya itu, tidak terbatas pada orang jawa saja. Selain menjadi seorang pelawak, Bagio juga eksis di dunia peran. Telah banyak film yang dia bintangi dari kurun waktu tahun 1960 sampai 1981. Kemudian dia menghembuskan nafas terakhirnya pada 14 Agustus 1993 pada usia ke 60 tahun.

Do you have a picture of this article? Share it from your Instagram!