Upacara Posuo - Mendidik Mental dan Kedewasaan Para Gadis Buton

source:butonutarakab.go.id
source:jalan2.com
Written by Aditya Tri Hutama Posted 9th April 2015, 3:20pm
Rate this article 

Tradisi hanya tinggal tradisi jika tidak ada kebaikan atau pengaruh terhadap para pelaku yang menjalankannya. Berbeda dengan kutipan di atas masyarakat Buton memberikan pandangan berbeda terhadap pengaruh tradisi yang mereka lakukan turun temurun. Sangat menarik sekali di masyarakat Buton masih melestarikan ritual Posuo, ritual ini biasa dilakukan masyarakat Buton untuk menyiapkan gadis yang akan beranjak dewasa dengan ritual pendidikan khusus yang dilakukan dalam sekian hari. Bisa dikatakan ritual ini training bagi para gadis yang akan melalu proses kedewasaan dan akan melepas masa lajangnya.

Sangat unik jika dilihat dari sesi pendidikannya, seorang gadis tidak serta merta dilepas oleh para orang tuanya setelah masa dewasanya. Dengan masa training ketat inilah para gadis digembleng oleh para tetuah adat untuk membentuk mental dan pendidikan si gadis agar siap menjalani kehidupan yang sebenarnya. Ritual Posuo dilakukan dalam beberapa hari khusus dimana si gadis tidak boleh pulang ke rumah orang tuanya sebelum prosesi ritual selesai. Training yang dilakukan ini meliputi pendidikan dasar, mental yang diajarkan oleh tetuah adat atau perempuan tua yang memiliki tingkat kelimuan tinggi dan punya ilmu magis.

Merunut ceritanya tradisi Posuo ini dilakukan sudah semenjak Kesultanan Buton ada. Tidak ada beda antara tradisi Posuo kuno dengan tradisi Posuo yang saat ini dilakukan. Dulunya sultan yang memimpin pada waktu itu memang membuat tradisi ini agar para gadis-gadis Buton siap menghadapi masa lajangya yang sudah beranjak semakin dewasa. Tidak lagi menuntut orang tuanya yang sudah tua untuk terus meminta bantuan. Oleh karenanyalah proses ritual ini digunakan untuk membentuk mental baja para gadis untuk bisa memposisikan dirinya sendiri sebagai seorang yang mandiri dan terdidik.

Upacara ini sendiri dilakukan selama kurang lebih delapan hari dalam ruangan khusus yang dinamakan oleh masyarakat setempat dengan sebutan Suo. Para gadis yang akan di training inilah akan “dikurung” di dalam Suo selama bebera hari. Nantinya para gadis ini akan diberi pegangan pemangku adat setempat yang sudah ditunjuk terlebih dahulu. Nantinya para pemuka ini akan membimbing para gadis meliputi petuah berupa pesan moral, spiritual dan pendidikan kepada para gadis ini.  Agar nantinya setelah dewasa bisa membina rumah tangga yang benar-benar secara Islami dan sesuai dengan kebudayan yang ada.

Dalam perjalanannya yang sudah kuno, tradisi Posuo ini terbagi menjadi beberapa jenis. Tercatat ada 3 buah jenis tradisi Posuo, Posuo Wolio, Posuo Johoro, dan Posuo Arabu. Ketiga jenis tradisi Posuo ini berkembang sedemikian rupa mengikuti budaya yang ada pada waktu itu. Semisal Posuo Johor itu berasal dari akulturasi budaya Johor dan Melayu sedangkan Posuo Arabu berkembang setelah Islam masuk ke Buton. Posuo Arabu ini dibawa oleh Syekh Haji Abdul Ghaniyyu yang pada saat itu adalah seorang ulama besar Buton yang memang konsen dengan persebaran nilai-nilai ajaran Islam. Untuk berakulturasi dengan budaya yang ada, Syekh Haji menambahkan pesan moral Islami di tradisi masyarakat Buton ini. Dan jadilah Posuo Arabu.

Itulah sekelumit mengenai tradisi dan budaya masyarakat Buton yang layak untuk diterapkan di lingkungan masyarakat sekitar kita. Hal-hal yang berbau pendidikan mental dan pendidikan dasar harus juga ditanamkan agar para gadis-gadis siap mental dan mempunyai bekal yang kuat setelah melepas masa lajangnya.



Do you have a picture of this article? Share it from your Instagram!