Tradisi Tolak Bala Khas Suku Sasak

source:m.kaskus.co.id
source:lifestream.cu.cc
Written by Aditya Tri Hutama Posted 25th November 2014, 12:07pm
Rate this article 

Salah satu suku asli Lombok bernama Suku Sasak ternyata masih melestarikan tradisi dan adat istiadat dari nenek moyang mereka meskipun di era se modern ini. Salah satu dari sekian banyak tradisi yang masih lestari adalah tradisi tua bernama Tradisi Metulak. Metulak biasa dikenal oleh masyarakat Sasak berarti sebuah upacara tolak bala di daerah pedesaan yang mereka tempati. Dari bahasa serapan Metulak berarti “Me” dan “Tulak”, yang masing-masing arti katanya berarti kembali. Menurut tetuah adat Suku Sasak, tradisi ini tetap dilestarikan untuk menolak bencana dan musibah yang biasa datang di desa mereka. Bermacam-macam jenis musibah yang biasa dikenal seperti penyakit, hama tanaman di sawah dan gangguan makhluk halus.

Seiring dengan berkembangnya jaman dan masukknya kepercayaan agama baru yang hadir di tengah-tengah Suku Sasak, tradisi ini juga ikut bertransformasi dari segi religi dan tatanan proses upacara. Hingga saat ini Islam masuk untuk mengisi unsur-unsur keislaman di setiap acara Metulak berlangsung. Tata cara upacara dan waktu Metulak dilangsungkan disesuaikan dengan peristiwa penting yang terjadi di desa tersebut. Kode-kode alam biasa diketahui oleh tetuah adat untuk bisa mempersiapkan upacara ini jauh-jauh hari. Beberapa peristiwa yang bisa dijadikan patokan untuk melakukan Metulak adalah ketika salah satu warga atau keluarga desa ada yang terjangkit penyakit, di desa terkena wabah penyakit menular atau sawah di pedesaan terkena serangan hama. Metulak juga dilangsungkan pada kegiatan-kegiatan seperti syukuran pembangunan rumah, prosesi pemberangkatan haji dan prosesi pemotongan rambut bayi yang baru lahir.

Metulak hadir di tengah-tengah masyarakat Suku Sasak untuk memberkahi dan meminta keselamatan lahir batin kepada Sang Pencipta. Perlu pembaca sekalian ketahui juga bahwa proses Metulak ini dilaksanakan 2 hari secara beruntun, jadi proses pemberkahan yang cukup lama. Metulak nantinya akan dipimpin oleh tim inti yang terdiri dari seorang Kepala Desa (Datu), tetuah adat dan ulama atau kyai. Ketiga unsur elemen ini mempunyai tugas masing-masing, untuk Datu bertugas memimpin proses upacara. Tetuah adat bertugas untuk memanggil roh leluhur dari Suku Sasak sendiri dan ulama bertugas untuk memimpin berdoa.

Metulak sendiri biasa dilakukan di tempat orang yang mempunyai hajat, bisa di teras rumahnya atau di salah satu tempat lapang di desa tersebut. Keluarga dan kerabat wajib hadir untuk diberkai bersama-sama. Syarat mengikuti upacara ini adalah membawa botol kosong dan uang koin sebanyak 9 buah untuk syarat upacara.  Untuk botol nantinya akan diisi air yang sudah didoakan oleh sang ulama. Nantinya air yang sudah didoakan tersebut bisa dibasuhkan atau diminumkan kepada keluarga yang punya hajat atau terkena musibah.

Do you have a picture of this article? Share it from your Instagram!