Perahu Lesung Suku Asmat

source:maharrhanni.wordpress.com
source:wacananusantara.org
Written by Aditya Tri Hutama Posted 15th January 2015, 12:26pm
Rate this article 

Alat transportasi di berbagai daerah memang berbeda-beda, ada aneka ragam jenis alat transportasi yang biasa digunakan oleh setiap masyarakat di daerah setempat. Tidak terkecuali juga dengan masyarakat yang mendiami daerah Kalimantan yang banyak ditemui sungai-sungai dan rawa. Suku Asmat yang dikenal dengan suku tertua di Indonesia masih melestarikan alat transportasi dengan bentuk perahu mini layaknya sebuah perahu kayak yang hanya bisa ditumpangi tidak lebih dari 5 orang saja. Perahu Suku Asmat ini lebih dikenal di Pulau Kalimantan dengan nama perahu lesung.

Meruntut sejarahnya perahu lesung Suku Amat ini dulunya dibuat dan dipakai untuk persiapan pada medan perang. Biasa digunakan untuk proses pengintaian untuk melakukan penyerangan di daerah musuh. Tidak hanya sampai disitu saja, perahu lesung juga digunakan untuk proses pengangkutan dan pencarian bahan makanan di tempat-tempat yang sulit dijangkau. Seiring dengan berkembangnya jaman, perahu lesung Suku Asmat beralih fungsi menjadi sebuah alat transportasi wajib bagi masyarakat yang mendiami Suku Asmat ini.

Suku Asmat mewajibkan setiap anggota koloninya harus mempunyai satu perahu lesung untuk mendukung kehidupan keluarganya sehari-hari. Peraturan adat di Suku Asmat juga mewajibkan setiap anggota sukunya untuk membuat perahu lesung baru secara berkala 5 tahun sekali. Selain peremajaan perahu yang sudah sering digunakan, peraturan ini juga untuk melestarikan perahu lesung sebagai alat transportasi khas dari Suku Asmat. Untuk pemilihan bahan bakunya, Suku Asmat biasa memilih kayu khusus dan jumlahnya terbatas. Biasa digunakan jenis-jenis kayu kuning, ketapang, bitanggut atau jenis kayu susu.

Ada dua macam perahu yang biasa dibuat oleh Suku Asmat yakni perahu keluarga dan perahu clan. Perbedaan dari keduanya jelas terlihat dari ukuran dan peruntukannya. Jika perahu keluarga digunakan sebagai alat trasnportasi keluarga yang bisa memuat antara 2 hingga 20 orang. Dengan panjang yang cukup besar sekitar 4-7 meter perahu ini bisa mengangkut banyak anggota keluarga yang ingin berkunjung ke desa lainnya. Jenis perahu kedua diperuntukan untuk kehidupan sehari-hari keluarga tersebut, hanya bisa memuat antara 2-5 orang saja.

Yang unik dari perahu lesung Suku Asmat ini bisa terlihat dari dayung yang digunakan oleh pendayungnya. Tampak terlihat dayung perahu lesung sangat panjang karena penduduk Asmat menyukai mendayung sambil berdiri, sehingga membutuhkan dayung yang agak panjang agar bisa mengendalikan perahunya. Keunikan lain yang membedakan perahu lesung ini dengan perahu lainnya adalah bentuk dari bagian muka perahu lesung tersebut. Di bagian mukanya selalu ada cicemen, cicemen dalam bahasa setempat berarti ukiran yang menyerupai binatang atau ukiran bentuk manusia. Menurut tetuah adat setempat, cicemen ini digunakan sebagai perlambang keluarga yang sudah meninggal dengan simbol-simbol tertentu agar terkenang sepanjang masa.

Sebelum digunakan, perahu lesung yang sudah jadi akan diruwat agar selalu terjaga dan selamat saat digunakan. Ciri khas dari perahu ini bisa dilihat dari warna catnya, biasa Suku Asmat akan mewarnai perahu kesayangannya dengan warna merah putih dan selalu dihiasi dengan daun sagu.
Itulah sekilas mengenai alat trasnportasi nenek moyang Suku Asmat yang hingga kini masih lestari. Semoga dengan sedikit informasi ini, pembaca sekalian dapat memmperkaya khazanah kebudayaan yang ada di Nusantara ini. Semoga bermanfaat.


Do you have a picture of this article? Share it from your Instagram!